Media, Indonesia, berita Indonesia, foto Indonesia, portal Indonesia, berita terkini, berita ekonomi, berita bisnis, berita olahraga, berita hiburan, berita lingkungan, berita politik, rss feed, galeri foto,medan kini,terkini,medan, sumatera utara,sumut,nasional,ekonomi,sosial,budaya
Jum'at, 10 Februari 2012
Follow: 
Penyerahan Bantuan Program Bina Lingkungan PTPN IV tahun 2012
Penyerahan Bantuan Program Bina Lingkungan PTPN IV tahun 2012
Penyerahan Bantuan Program Bina Lingkungan PTPN IV tahun 2012
Penyerahan Bantuan Program Bina Lingkungan PTPN IV tahun 2012
Penyerahan Bantuan Program Bina Lingkungan PTPN IV tahun 2012
Penyerahan Bantuan Program Bina Lingkungan PTPN IV tahun 2012
Penyerahan Bantuan Program Bina Lingkungan PTPN IV tahun 2012
Penyerahan Bantuan Program Bina Lingkungan PTPN IV tahun 2012
Penyerahan Bantuan Program Bina Lingkungan PTPN IV tahun 2012
Peninjauan Lapangan
Penghargaan
Telkomsel Sediakan Fasilitas Download Lagu Sepuasnya
Home  / Sosok
Wanita yang Peduli Terhadap Kesehatan Masyarakat
Ivan Elisabeth Purba
Penampilannya sederhana. Sepintas wanita murah senyum itu sosoknya bukan seorang pendidik, namun lebih mirip selebriti.
Padahal, adik kandung anggota DPD pemilihan asal Sumut Parlindungan Purba, dipercaya mengelola dan memimpin Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Mutiara Indonesia.


Wanita yang aktif di berbagai lembaga sosial itu, memang, salah seorang tokoh perempuan di Sumut yang memedulikan kesehatan masyarakat.
Walaupun dia menggeluti seabrek kegiatan, anak pendiri RSU Sari Mutiara ini, ingin menunjukkan peran perempuan dalam pembangunan sebagaimana yang digagas tokoh emansipasi perempuan, RA Kartini.
 

Dia dikenal sebagai pimpinan lembaga pendidikan yang menghasilkan tenaga kesehatan. Cita-cita ini sudah melekat sejak Ivan Elisabeth Purba masih kecil.

 
”Saya sejak kecil memang bercita-cita menjadi guru. Itu ditandai dari kecil suka mengumpulkan adik dan anggota keluarga untuk rajin membaca dan berhitung. Pekerjaan itu dilakukan sejak Sekolah Dasar (SD). Tidak hanya di rumah, di sekolah para guru juga sering meminta saya untuk dapat membantu mengajari teman sekelas saat keluar main-main.”


Akhirnya, saya bersyukur karena cita-cita itu dapat terwujud, walau pendidikan S-1 tidak berkaitan dengan pendidikan. Paling tidak, sebagai kaum
perempuan bisa memberikan kontribusi dalam pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan terutama akhlak.

Selain diisi dengan ilmu, lembaga pendidikan yang kami kembangkan juga diisi dengan agama. Itu dilakukan untuk membina kerukunan antar-umat beragama dengan dapat beribadah sesuai dengan agama yang dianutnya. Semua itu harus saling mendukung dalam menjalin kerukunan umat beragama.


Jebolan S1, Jurusan Ilmu Administrasi Negara FISIP USU ini,  berprinsip untuk menjadi pendidik tidak harus dari lembaga pendidikan keguruan apalagi program pendidikan S-1 yang diambil berhubungan dengan sosial. Akan tetapi, program S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat USU sudah direngkuhnya. Saat ini dia kuliah S3 Studi Perencanaan Wilayah di USU dengan disertasi perencanaan wilayah berbasis kesehatan. “Jadi saya tetap komit dengan pendidikan kesehatan untuk dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat sekitar lewat berbagai aktivitas sosial dan kesehatan.”

Begitu tamat S1, dialangsung mengajar di Sari Mutiara. Dia pun pernah mengajar di Universitas Karo, Akademi Keperawatan Dewi Maya dan beberapa lembaga pendidikan lainnya. Karena berbagai kesibukan pula, akhirnya fokus mengajar di STIKes Mutiara Indonesia.

 Pengalaman memimpin lembaga pendidikan yang menampung lulusan SLTA dengan beragam kemampuan harus dapat ditingkatkan. Itu terjadi karena ada kesenjangan kualitas pendidikan antar-kabupaten maupun kota di Sumut. Siswa tamatan Medan, tentu beda dengan daerah dengan fasilitas pendidikan yang minim.

Kampus ini berawal dari sekolah perawat kesehatan sejak 25 tahun lalu dimana sejak tahun 200 menjadi STIKes. Ivan senang karena masih banyak yang mau mengajar walau di push. Demikian pula saat mahasiswa dan alumni mampu mendapat prestasi terbaik dalam pendidikan dan pekerjaannya.

Untuk meningkatkan keinginan belajar mereka, kami harus dukung dengan penyediaan fasilitas seperti wifi agar dapat mengakses internet lewat laptop secara gratis. Tidak cuma itu, peningkatan kualitas dosen juga harus ditingkatkan.

Dalam pendidikan kesehatan dimana para mahasiswa perawat dan bidan yang diinapkan dalam asrama, bertujuan agar mereka selalu siaga selama 24 jam dalam bekerja. Ketika ada pasien, mereka harus siap kerja termasuk dinas malam untuk praktik malam.

Kami menyediakan psikolog dan ibu asrama, tempat mereka menyampaikan berbagai permasalahannya. Apalagi mereka yang kuliah disini, dibatasi untuk tidak memakai telepon gengam untuk membiasakan bekerja tanpa ada gangguan.

Jangan saat dinas menangani pasien, ketika ada panggilan telepon, ternyata mereka memilih mengangkat telepon. Orang yang bekerja dalam bidang kesehatan, harus memerhatikan kepentingan umum. Di sini, mereka belajar untuk hidup sederhana sehingga tidak dibenarkan memakai perhiasan. Mereka harus belajar miskin karena belajar kaya gampang.

Bantuan itu, kebanyakan program kuratif atau pengobatan. Sekarang kalau bicara pengobatan sebatas bicara dokter, obat dan rumah sakit. Padahal kesehatan juga berkaitan dengan preventif atau pencegahan. Jangan orang sakit baru diobati karena seharusnya bagaimana untuk mencegah agar orang tidak sakit. Justru untuk mengobati orang sakit, akan membutuhkan biaya yang lebih besar.

Masyarakat harus punya pengetahuan untuk dapat mempertahankan kesehatan dengan hidup teratur, berolahraga, mengkonsumsi makanan bergizi yang tidak identik dengan mahal. Demikian pula mengembangkan pola hidup bersih dan sehat diawali dengan mencuci tangan.

Visi Indonesia Sehat 2010 sudah dimulai. Coba lihat kondisi kesehatan masyarakat saat ini. Yang lebih banyak kok kegiatan kuratif, seharusnya mengedepankan preventif. Mencegah lebih baik daripada mengobati.

Ketua STIKes Mutiara Indonesia Ivan Elisabeth Purba, menegaskan sejumlah faktor penyebab rendahnya kesehatan masyarakat adalah nutrisi yang kurang, tidak seimbang (yang sebagian besar berhubungan dengan faktor sosial ekonomi), higienisitas yang buruk, faktor kelainan pada sistem pencernaan, sistem neuromotorik (kemampuan beraktifitas), sistem daya tahan tubuh (seperti defisiensi imun), kelainan psikiatrik, adanya infeksi berat, neglected child (anak-anak terlantar), dan sebagainya.

Kemudian, timbulnya masalah gizi buruk juga terkait erat dengan penyediaan sarana kesehatan sampai saat ini penyebarannya belum merata terutama masalah sumber daya (manusia, sarana dan prasarana), demikian pula dengan  pelayanan kesehatan.

"Untuk mewujudkan perilaku hidup sehat, saat ini tingkat kesadaran masyarakat tentang kebersihan  lingkungan dan perilaku berolah raga masih rendah, pemberdayaan  masyarakat  dan sumber  daya  yang ada belum memadai, masyarakat begitu mudah  mendapatkan rokok, narkoba dan seks bebas, dan kesadaran masyarakat  akan pentingnya  makanan gizi seimbang masih kurang," tegasnya.

Kedepan masyarakat terakses pelayanan preventif dengan mengedepankan slogan lebih baik mencegah daripada mengobati. Hingga beberapa tahun ke depan, kota Medan bisa terbebas dari rokok, narkoba, dan seks bebas serta tidak ada kasus gizi buruk lagi.

Sebagai anggota Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI) Sumut, menurut Ivan E Purba, sampai saat ini kesadaran masyarakat  untuk memeriksa kesehatannya masih sangat kurang.

Upaya lainnya yang bisa dilakukan dalam mengurangi angka gizi buruk di negeri ini adalah dengan meningkatkan peran perempuan dimasa mendatang.

"Perempuan bekerja dan ikut menopang kebutuhan keluarga harus bijak dan cerdas dalam menyikapi banyak hal termasuk masalah asupan gizi bagi anak-anaknya. Kalau hanya mengadalkan makanan-makanan yang dijual bebas di luaran sana, bagaimana mungkin si anak mendapatkan gizi yang benar dan seimbang. Sebab, kita tidak tahu dan melihat langsung bagaimana makanan tersebut diolah. Untuk hal kecil ini, perempuan memiliki peran yang sangat strategis," tegasnya.

Sebenarnya, pemberdayaan dan peningkatan potensi kaum perempuan dalam mengatasi kemiskinan dan meningkatkan konsumsi gizi keluarga, dapat dilakukan dengan banyak cara. Hanya saja, banyak masyarakat dan kaum perempuan sekarang lebih memilih makanan siap saji daripada memasak yang sesederhana mungkin namun memiliki asupan gizi yang cukup dan seimbang.

Permasalahan gizi buruk tidak pernah habis-habisnya diperbincangkan. Karena sampai hari ini kasus gizi buruk terus bermunculan di sejumlah daerah, tidak saja di pedesaan tetapi juga di perkotaan.

Semua mengakui bahwa persoalan gizi buruk merupakan masalah klasik. Namun, layaknya bola salju, masalah ini semakin mengkhawatirkan saja. Salah satu upaya agar anak-anak Indonesia terbebas dari masalah gizi buruk, penuhi nutrisinya dengan makanan bergizi!

Salah satu indikator yang menyebabkan munculnya gizi buruk di negeri ini adalah daya beli masyarakat semakin menurun, dan semakin sulit untuk mendapatkan kehidupan yang layak bagi keluarganya.(em)

Share |
Leave your comment.
Name*:
Email*:
Website:
Comment*:
: * Type the captcha!
Mobile Version | Profile | Kontak | Iklan | Disclaimer | RSS
Copyright eksposnews.com © 2009-2012
All Rights Reserved. design by. arieweb