- Home
- Nasional
- Politik
- Ekonomi & Keuangan
- Hukum & Kriminal
- Agribisnis
- Olahraga
- Hiburan
- Ragam
- Gallery
- Pilkada
- Index

|
||
|
Kualitas SDM Butuh Terobosan Pendidikan
JAKARTA (EKSPOSnews) : Sudah 65 tahun Indonesia merdeka, namun perekonomian nasional masih tersandung masalah yang fundamental, yakni sumber daya manusia (SDM). Diperlukan terobosan kebijakan. Seperti apa?
Sugeng Purwanto PhD, FRM, Direktur Paramadina Graduate School of Business mengatakan saat ini Indonesia membutuhkan terobosan kebijakan (policy break through) di sektor pendidikan. Meskipun tidak merefleksikan kinerja ekonomi secara gamblang, kualitas manusia dinilai lebih penting daripada indikator manapun. Apalagi ekonomi kita saat ini mengarah ke liberal, yang rentan terhadap masalah eksternal. ”Alhasil, faktor fundamental pun harus diperkuat, yakni mental dan pendidikan SDM,” ujar Sugeng yang juga dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan Bina Nusantara itu. Menurut dia, cara berpikir orang Indonesia saat ini masih terfokus pada ‘urusan perut’. Hal ini menyebabkan kurangnya kesadaran akan pola hidup yang baik, sikap mudah emosional, tidak berpikir positif, tamak, dan kurang memelihara kesadaran lingkungan. “Itu mencerminkan kinerja yang tidak sustainable,” kata Sugeng. Dia menilai kalangan menengah ke atas yang setidaknya mengenyam pendidikan tinggi dan bekerja di sektor bisnis sudah bebas dari masalah tersebut. Terutama karena etos kerja positif yang ditularkan di sektor formal. Ia mencontohkan perusahaan nasional yang bekerja sama dengan perusahaan asing atau yang mengadopsi cara kerja negara maju. Di tempat ini, kemampuan teknis karyawan bisa dianggap setara. “Bahkan, karyawan Indonesia yang dulu terkenal suka terlambat, sekarang sudah tidak ada lagi,” ujarnya. Namun masyarakat bawah yang jumlahnya besar, masih belum disentuh. Banyak cara untuk meningkatkan kualitas manusia, seperti pencerahan informasi dari media cetak dan elektronik. Kemudian pendidikan, dengan terobosan kebijakan kurikulum yang lebih baik dan kompetitif. “Kurikulum yang membentuk moral dan mental masyarakat ini penting untuk meningkatkan kualitas manusia.” Selama ini, imbuhnya, kurikulum di Indonesia hanya mengajarkan teori, tidak menitikberatkan pada sisi teknis dan kreativitas. Murid tidak diajarkan memahami trik komunikasi, cara bernegosiasi, sopan santun, penerapan nilai-nilai berbisnis. “Alhasil, lulusan sarjana Indonesia masih banyak yang ‘kalah’ bicara dibandingkan lulusan luar,” paparnya. Cara lain untuk menggalakkan masyarakat agar mendekati sektor formal ialah dengan pelatihan-pelatihan dan program corporate social responsibility (CSR) dari kalangan korporasi terhadap masyarakat sekitar. Dia berharap aliran dana pemerintah diatur ke tempat yang benar, yakni pendidikan orang miskin. “Dan jangan berupa bantuan dana saja, karena tidak akan menjadikan kondisi masyarakat lebih baik,” tegasnya. Sugeng pun menekankan pentingnya apresiasi pemerintah terhadap kepandaian. Dia berpendapat tidak adanya penghargaan atas hasil karya intelektual akan meredam semangat dan motivasi orang untuk berhasil. Masyarakat pun tidak terpacu untuk maju dan bersaing. “Bandingkan dengan negara maju, di mana orang pandai sudah pasti bisa hidup nyaman,” katanya. Fondasi Ekonomi Oke Di luar masalah kualitas SDM, Sugeng menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah cukup bagus, meskipun belum bisa dikatakan baik. Pasalnya, target PDB sebesar 6-7%, sudah pernah dicapai sebelumnya. "Meski angka PDB di 6,2%, menunjukkan kestabilan, target ekonomi seharusnya dipasang lebih tinggi," katanya. Indikator finansial juga dinilai baik. BI rate 6,5%, mendekati target inflasi BI, yakni 5% plus 1. Hal ini menunjukkan kinerja BI bagus. “Demikian pula nilai tukar rupiah yang berada di bawah 9.000 per dollar AS, dengan volatilitas menurun. Level rupiah di angka tinggi atau rendah, sebenarnya tidak masalah, asal stabil,” ujarnya. Sedangkan untuk perbankan, tingkat rasio kecukupan modal (CAR) naik dan ikuiditas meningkat. Hal itu terlihat dari maraknya penawaran kredit tanpa agunan (KTA) yang sekaligus mengindikasikan adanya kelebihan uang di bank. Saham juga menunjukkan kinerja terbaiknya. Pada 13 Agustus ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) berada di level tertinggi 3.053, sejak menembus 3.000 pada 21 Juli lalu. Indeks sempat mencapai level tertingginya pada 9 Januari 2008 di 2.830. Namun, ketika terjadi krisis finansial di AS, indeks anjlok hampir sepertiganya ke level 1.111 pada 28 Oktober 2008. Ketika itu, value dari perusahaan turun banyak. Hal ini diperparah liberalisasi yang membuat sektor keuangan paling rentan karena mudah tertular masalah. Sejak anjlok pada 1998, sektor riil Indonesia sudah pulih. Indeks pada Maret 2010 berada di angka 2.813 dan empat bulan kemudian menembus level 3.000 . Dengan angka tertinggi dan kapitalisasi pasar mencapai Rp2.566 triliun, value seluruh perusahan naik. “Meskipun tidak mempengaruhi ekonomi domestik, IHSG penting karena mereflesikan kepercayaan asing terhadap ekonomi Indonesia,“ katanya. (Ic)
BERITA TERKAIT:
|