- Home
- Nasional
- Politik
- Ekonomi & Keuangan
- Hukum & Kriminal
- Agribisnis
- Olahraga
- Hiburan
- Ragam
- Gallery
- Pilkada
- Index

|
||
|
Lombok Bagendang, Meningkatkan Wisata Religi
Lombok
MATARAM (EKSPOSnews): Pemprov NTB hari ini menggelar parade "Lombok Bagendang" di Jalan Langko dan Jalan Pejanggik, Kota Mataram, yang diikuti 5 propinsi undangan.
Kelima provinsi peserta Parade "Lombok Bagendang" itu yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, DKI Jakarta dan Nusa Tenggara Barat (NTB) selaku tuan rumah yang diikuti penabuh gendang bele (gendang besar) dari lima kabupaten/kota di Pulau Lombok. Kelima provinsi itu juga merupakan peserta Festival Perkusi Nusantara yang dipusatkan di Taman Budaya Mataram, yang pelaksanaannya Sabtu 31 Juli 2010 malam. "Lombok Bagendang" merupakan sebutan untuk festival gendang besar (beleq) sebagai bagian dari upaya pengembangan wisata religi di Pulau Lombok, NTB. Parade "Lombok Bagendang" yang diikuti ribuan warga NTB itu dibuka Kepala Badan Penanaman Modal (BPM) NTB Yaqoub Abidin, mewakili Gubernur NTB KH. M. Zainul Majdi, yang sedang dinas luar daerah. Menurut Yaqoub, Parade "Lombok Bagendang" itu merupakan media revitalisasi kebudayaaan tradisional yang belakangan ini makin ditinggalkan generasi muda penerus bangsa. "Musik tradisional seperti `gendang beleq` merupakan bagian dari akar budaya nasional yang mencerminkan semangat gotong royong yang dilandasi persatuan dan kesatuan," ujarnya. Selain itu, Parade "Lombok Bagendang" itu juga merupakan ikon pariwisata di masa mendatang yang mampu bertahan di tengah derasnya arus modernisasi. Pemerintah Provinsi NTB akan berupaya mengembangkan Parade "Lombok Bagendang" secara berkelanjutan setiap tahun yang tetap dipusatkan di jalan protokol Kota Mataram. "Nanti akan menjadi salah satu obyek pariwisata yang dapat memacu arus kunjungan wisatawan ke daerah ini," ujarnya. Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi NTB Lalu Gita Aryadi, mengatakan, pelaksanaan Parade "Lombok Bagendang" itu merupakan salah satu bentuk apresiasi terhadap kekayaan bangsa dan negara yang dikhawatirkan punah tergilas zaman. "Ini ruang apresiasi bagi musik dan tarian tradisional yang harus terus kita lestarikan sebagai akar seni budaya nasional," ujarnya. (ant)
BERITA TERKAIT:
|