- Home
- Nasional
- Politik
- Ekonomi & Keuangan
- Hukum & Kriminal
- Agribisnis
- Olahraga
- Hiburan
- Ragam
- Gallery
- Pilkada
- Index

|
||
|
100 juta Wanita Mengalami Diskriminasi
NET
Sheryl WuDunnBEIJING (EKSPOSnews): Diskriminasi terhadap perempuan sedunia membuahkan kondisi yang mengejutkan.Dilaporkan, sedikitnya 100 juta perempuan sedunia harus menghadapi diskriminasi.
Inilah kenyataan yang masih terjadi di era yang menyanjungkan kesetaraan gender. Dan ini juga merupakan salah satu tantangan moral pada abad 21. Ketika orang lain berebut lahan pekerjaan serta berjuang demi kehidupan yang lebih layak, diskriminasi terhadap perempuan bertahan pada level yang sama.Persoalan ini setia berdampingan dengan isu penyelundupan serta perdagangan manusia. Dunia perlu lebih banyak lagi orang yang menaruh perhatian terhadap persoalan diskriminasi. Warga dunia dituntut untuk bertindak, bukan hanya bicara teori. Itu pula yang tengah diusahakan Sheryl WuDunn, mantan reporter The New York Times. Dia membandingkan diakhirinya penindasan terhadap perempuan dengan perjuangan pembebasan perbudakan pada abad 19 dan totalitarianisme pada abad 20. Bersama Nicholas Kristof,suaminya,perempuan yang sekarang berprofesi dalam dunia perbankan tersebut menulis sebuah buku, Half the Sky. Buku yang berisi paparan kondisi perempuan sedunia pada masa sekarang itu patut dibaca, mengingat diskriminasi yang masih juga menggemparkan. Untuk menyelesaikan bukunya, WuDunn bersama Kristof terbang ke China. Di luar perkiraan, mereka menemukan kenyataan yang memprihatinkan. Di China, hampir 30 juta bayi perempuan “hilang”. Janin bayi tidak berdosa itu digugurkan karena orang tuanya lebih mendambakan anak laki-laki. Semua berawal dari kebijakan satu anak yang diterapkan Pemerintah China. Ketika kebijakan ini diberlakukan, wajar bila calon ibu pilih melahirkan bayi laki-laki.Bagaimanapun, keluarga mereka butuh penerus, yang pastinya seorang laki-laki. Itulah mengapa sonogram turut berperan terhadap keputusan calon ibu. Ketika sonogram menunjukkan janin yang sedang dikandung berjenis kelamin perempuan, maka sang calon ibu bisa segera melakukan aborsi. Tidak dimungkiri, hasil sonogram menimbulkan reaksi yang beragam. Ada beberapa calon ibu yang sedih karena harus menggugurkan bayinya.Namun,ada juga yang terlihat bahagia kala mengetahui calon bayinya laki-laki. “Hasil sonogram melegakan.Kami tidak perlu memiliki bayi perempuan lagi,” papar seorang koresponden Wu- Dunn di selatan China. Kenyataan ini tentu memprihatinkan. Bayi-bayi perempuan itu punya hak hidup yang sama,sepeti bayi laki-laki. Sungguh disayangkan, mereka harus “pergi” demi sesuatu yang tidak diinginkan. Menurut WuDunn,ada sekitar 60–100 juta perempuan sedunia yang diketahui telah hilang.Hilang,dalam arti sebenarnya, maupun bermakna implisit. WuDunn mengerti, persoalan ini bakal sulit terpecahkan. Bagaimanapun, persoalan diskriminasi terhadap perempuan menyangkut aspek-aspek kehidupan yang lain. Namun, diterangkan Wu- Dunn, sebenarnya ada solusi yang cukup baik. Perbaikan ini, kata WuDunn diperlukan untuk mengurangi bahkan mungkin menumpas diskriminasi terhadap perempuan.“ Ketika Anda mendidik seorang perempuan, dia akan tumbuh seperti anak-anak lain,” paparnya. (oana/ok)
BERITA TERKAIT:
|