- Home
- Nasional
- Politik
- Ekonomi & Keuangan
- Hukum & Kriminal
- Agribisnis
- Olahraga
- Hiburan
- Ragam
- Gallery
- Pilkada
- Index

|
||
|
Situs Istana Raja Sisingamangaraja di Humbahas Terlupakan
BAKTI RAJA (EKSPOSnews); Peninggalan sejarah di Republik Indonesia ini ternyata betul-betul dilupakan. Sebuah situs kompleks istana Raja Sisingamangaraja X,XI dan XII yang berkumpul, kini sudah berumur 103 tahun di Kecamatan Bakti Raja, Humbang Hasundutan, Sumut kurang mendapat perhatian pemerintah.
Roma boru Sinambela putri dari anak Raja Gomal Sinambela yang keturunan Oppung Amani Pulo Batu/Raja ni Pulo Batu dari anak pertama Oppung Raja Sisingamagaraja ke-XII Rabu 1 September 2010 di kediaman kompleks istana nasional Raja Sisingamangaraja Desa Lumban Raja, Kecamatan Bakti Raja, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas). Dia menceritakan, sejak turun temurun mulai dari Raja Sisingamangaraja dari ke-X dan keturunannya Raja Sisingamangaraja ke XI. Selanjutnya, dari Raja Sisingamangaraja ke-XI dengan keturunannya ada 2 orang yang sama-sama gelarnya Raja Sisingamangaraja ke-XII masing-masing bernama, Appallopuk (Oppung Pulo Batu) dan Tuan Bosar (Oppung Pulo Batu). Hingga, ke tempat peninggalan sejarah istananya berupa rumah parapotan (tempat rapat), rumah parsaktian (tempat semedi), rumah bolon (tempat tamu) dan rumah balai. Serta, tempat peristirahatan mulai dari Raja Sisingamangaraja X,XI dan XII, pengakuannya mereka sendirilah yang membersihkan. Ironisnya, sejak terbentuknya Pemerintahaan Kabupaten Humbang Hasundutan yang terpisah dari Pemerintahaan Kabupaten Tapanuli Utara. Istana nasional Raja Sisingamangaraja mulai dari Raja Sisingamangaraja X, XI dan XII, tidak mendapatkan perhatian. ”Sebatang pot bunga saja dari bupati tidak ada, boro-boro dana pemeliharaan,”cetus Roma didampingi ibunya, Oppung Tulus boru Silaban, 68. Sementara, situs yang berada di kota Balige yang sama-sama julukan Raja Sisingamangaraja ke XII adalah adiknya Appallopuk, yakni, Oppung Tuan Bosar. Dikatakannya lagi, adanya situs-situs Raja Sisingamangaraja ke XII berbentuk patung malah dibangun di Teladan Kota Medan. Dimana persoalannya, tulang betulang mulai dari keturunan Raja Sisingamangaraja ke X, XI dan XII berada di Desa Lumban Raja, Kecamatan Bakti Raja, Kabupaten Humbang Hadundutan, bukan di Medan. “Jadi untuk apa tugu dibesar-besarkan sementara aslinya ada di Kabupaten Humbahas ini tidak mendapatkan perawatan dan bantuan dari siapapun,”tegasnya. Dia mengharapkan, agar pemerintah pusat atau provinsi memberikan sedikit perhatian terhadap situs sejarah yang bisa meyumbang devisa bagi Negara lewat kunjungan turis dari Negara lain. Kemudian, tambahnya, apabila adanya niat pemerintah pusat menyalurkan dana berupa pemeliharaan, jangan lewat pihak ketiga. Dimana, menurutnya, ada dugaan bahwasanya pemerintah pusat maupun anak rantau yang berhasil di pulau Jawa yang hendak memberikan dana, ternyata tidak pernah sampai ke tujuan. Disamping itu, ia juga mengakui apabila ada dana pemeliharaan itu akan diperuntuhkan membuat pagar keliling dan penataan lokasi dan membuat lampu sorot. Sementara itu, Ramses Purba, 46, salah satu tokoh masyarakat Doloksanggul menegaskan, sikap Pemerintah Kabupaten Humbahas harusnya perduli sejarah. Karena, tanpa ada perjuangan tokoh-tokoh seperti Raja Sisingamangaraja ke XII, tidak akan terbentuk Kabupaten Humbahas. Jadi, diharapkan Pemkab Humbahas sebagai tuan rumah membuat anggaran untuk pemeliharaan peninggalan sejarah tersebut. (gs)
BERITA TERKAIT:
|