- Home
- Nasional
- Politik
- Ekonomi & Keuangan
- Hukum & Kriminal
- Agribisnis
- Olahraga
- Hiburan
- Ragam
- Gallery
- Pilkada
- Index

|
||
|
Mulai Akhir Tahun ini Semen Andalas Mulai Berjalan Normal
MEDAN (EKSPOSnews): Manajemen PT Lafarge Cement Indonesia--produsen Semen Andalas—diperkirakan mulai akhir tahun ini mampu memasarkan produk 1,6 juta ton per tahun ke berbagai daerah di Indonesia.
"Sebenarnya pabrik yang sempat hancur dilanda tsunami di Lhoknga, Banda Aceh, 26 Desember 2004, sudah mulai beroperasi dengan produksi terbatas untuk memenuhi kebutuhan lokal, yakni Aceh," kata Commercial & Logistics Director PT Lafage Cement Indonesia, Haryanto Chandra, di Medan, Minggu 22 Agustus 2010. Di sela pelatihan kerja kepada 200 pekerja dari berbagai kawasan Kota Medan, dia menjelaskan kegiatan ini tidak sekadar untuk mengingatkan kembali keberadaan Semen Andalas itu, tetapi juga menambah ketrampilan para pekerja dalam penggunaan semen yang baik dan benar guna meningkatkan kualitas bangunan di dalam negeri. Dia mengakui kapasitas produksi pabrikan yang 1,6 juta ton/tahun itu mengalami kenaikan dari sebelumnya yang masih 1,2 juta ton. Pada akhir tahun ini atau awal tahun 2011 bisa memasarkan produknya ke pelbagai daerah di Tanah Air, khususnya Sumatra Utara, Riau daratan, dan Riau kepulauan Dengan peningkatan kapasitas produksi di Aceh, termasuk produksi Pabrik Lafarge di Langkawi, Malaysia, kata dia, manajemen mengharapkan bisa meningkatkan "market share" di Sumatra bagian utara itu dari sebesar 33 persen dari total permintaan daerah yang sekitar lima jutaan ton/tahun selama ini. "Bahkan, manajemen berharap bisa memasarkan semen itu ke daerah lain sehingga `market share` bisa mencapai 50 persen," katanya. Marketing Direktur PT Lafarger Cement Indonesia, Budi Dermawan, menambahkan, permintaan semen di Sumbagut dan secara nasional tahun ini bertumbuh 6-7 persen akibat pertumbuhan ekonomi, termasuk meningkatnya permintaan properti. Menurut prakiraan, pada tahun depan, permintaan akan naik lagi menjadi sekitar 7-10 persen. "Manajemen siap memenuhi peningkatan permintaan itu karena selain pabrik di Aceh sudah akan beroperasi normal juga pabrik di Malaysia berstandar Eropa dan Standar Nasional Indonesia berkapasitas 3.000.000-an ton itu siap menambah pasokan ke Indonesia." kata Budi. Mengenai harga jual, kata dia, sangat dipengaruhi biaya produksi. Sebelumnya, Presiden Direktur PT Lafarge Cement Indonesia, Marc Jarrault ketika di Medan awal Juni lalu dalam kegiatan Sosialisasi Bulan Keselamatan menyebutkan investasi pembangunan pabrik itu dan fasilitas lainnya berkisar 300 juta dolar AS. Belajar dari bencana tsunami, perusahaan itu memasang alarm tsunami di tengah laut, dekat lokasi pabrik itu. "Jika ada gempa dan tsunami, seluruh karyawan bisa mengetahui lebih awal dan bisa menyelamatkan diri," katanya. (ant)
BERITA TERKAIT:
|